Minggu 30 November 2025 - 18:53
Kajian Akhlak | Meninggalkan Dosa karena Takut kepada Allah atau Karena Malu ?

Hawzah/ Jika suatu amal perbuatan dilakukan karena Allah Swt, maka amal tersebut akan bernilai. Namun, jika tidak dilakukan karena Allah Swt, maka amal tersebut tidak bernilai. Oleh karena itu, alih-alih bersandar pada amal perbuatan kita, kita harus menghadap ke hadirat Allah dan berkata: "Ya Tuhan, kami tidak memiliki apa-apa, dan harapan kami hanyalah pada Kemurahan-Mu."

Berita Hawzah- Almarhum Ayatullah Muhammad Ali Nasiri, salah seorang guru akhlak di Hawzah Ilmiyyah, dalam salah satu pelajaran akhlaknya membahas topik "Riya' (Pamer) dalam Perbuatan dan Syirik Khafi (Syirik Tersembunyi) di dalamnya," yang isinya adalah sebagai berikut:


Imam Ali Zainal Abidin As-Sajjad 'alaihissalam dalam Doa Makarim Akhlaq bersabda:

"وَ لَیسَ عِنْدِی مَا یوجِبُ لِی مَغْفِرَتَک، وَ لَا فِی عَمَلِی مَا أَسْتَحِقُّ بِهِ عَفْوَک"

"Wahai Tuhanku, aku tidak memiliki sesuatu yang mengharuskan bagiku ampunan-Mu, dan tidak pula dalam amalan perbuatanku yang membuatku layak untuk memperoleh maaf-Mu."

Dalam bagian-bagian sebelumnya, Imam Ali As-Sajjad memohon kepada Allah Swt: "Ya Tuhanku, aku datang ke pintu-Mu dengan harapan akan ampunan-Mu, dan aku bergerak menuju maaf dan pengampunan-Mu. Aku rindu akan belas kasihan-Mu dan aku bertawakal kepada kemurahan-Mu."

Kenyataannya adalah, kita tidak memiliki amal apa pun yang dapat menyebabkan terampuninya dosa-dosa kita.

Amal perbuatan kita terbagi menjadi tiga kategori: kewajiban-kewajiban (wajibat), meninggalkan hal-hal yang diharamkan, dan amal baik seperti ziarah dan sedekah. Namun, tidak satu pun dari amal-amal ini yang terjamin (diterima); karena terdapat kemungkinan riya' dan motivasi-motivasi yang tidak benar, dan tidak jelas apakah amal-amal ini benar-benar dilakukan karena Allah.

Bahkan kewajiban-kewajiban yang telah kita lakukan pun belum tentu mendapatkan keridhaan-Nya. Mengenai hal-hal yang diharamkan, kita juga harus bertanya terlebih dahulu pada diri kita sendiri, "apakah kita telah meninggalkan semuanya?". Tidak ada perbuatan yang diterima secara pasti; sebab, niat kita yang sebenarnya tidak selalu jelas.

Terkadang kita menjauhi dosa bukan karena Allah, tetapi karena takut reputasi kita hancur di lingkungan. Kita mengira beramal untuk Allah, tetapi bisa jadi ada niat-niat lain yang tersembunyi. Jika suatu amal perbuatan dilakukan karena Allah Swt, maka amal tersebut akan bernilai. Namun, jika tidak dilakukan karena Allah Swt, maka amal tersebut tidak bernilai. Oleh karena itu, alih-alih bersandar pada amal perbuatan kita, kita harus menghadap ke hadirat Allah dan berkata: "Ya Tuhan, kami tidak memiliki apa-apa, dan harapan kami hanyalah pada Kemurahan-Mu."

Mungkin ada yang berkata, Allah Swt telah berulang kali menekankan kemurahan-Nya dalam Al-Qur'an dan riwayat. Apakah ini tidak bertentangan dengan perkataan kita?; Jawabannya adalah, tidak, saya juga mengatakan hal yang sama dengan yang difirmankan Allah Swt.

Kita tidak boleh beramal sepeti itu, sehingga kita keluar dari batas pengampunan Ilahi. Pengampunan Allah Swt memiliki batas, dan sebagian manusia keluar dari cakupan pengampunan-Nya.

Al-Qur'an berfirman:{إِنَّ اللَّهَ لَا یَغْفِرُ أَنْ یُشْرَکَ بِهِ} —'Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik kepada-Nya' (QS. An-Nisa: 48). Dosa dari kesyirikan tidak akan diampuni, maka sebab itu, kita tidak boleh melangkah terlalu jauh hingga kita kehilangan kelayakan untuk mendapatkan ampunan Ilahi.

Syirik itu sendiri terbagi menjadi dua macam: jelas (jalī) dan tersembunyi (khafī). Syirik jalī adalah menyekutukan Allah Swt, dan syirik khafī adalah riya' (pamer) dalam beramal.

Pada hari Kiamat, manusia berkata kepada Allah Swt: 'Aku telah melaksanakan shalat dan melakukan perbuatan-perbuatan baik.' Allah menjawab: 'Benar, tetapi engkau melakukan itu semua untuk orang lain. Engkau menyekutukan Aku dengan selain-Ku dalam amalmu. Maka Aku serahkan hak-Ku kepada orang yang untuknya engkau beramal. Pergilah dan mintalah balasan (pahala) mu darinya.

Dalam hal ini, manusia seharusnya bergegas untuk bertaubat, jika tidak, dosa kesyirikan itu tidak akan diampuni oleh Allah Swt. Begitu juga, beberapa dosa lainnya, seperti dosa para pembunuhan para Imam Maksum 'alaihimussalām.

Komentar Anda

You are replying to: .
captcha